About Me

Foto saya
Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia
Asix adalah sebuah kata yang berasal dari dua suku kata A dan six (enam). kalau digabung akan membentuk nama belakang saya yaitu anam. Sedangkan poel sebutan nama depan saya yang berasal dari saiful. karena lidah orang maduralah nama yang berarti pedang itu menjadi poel. tanggal lahir saya sama dengan tangal lahir bungkarno, tapi masih harus ditambah 24 hari lagi. Kalau tahun kelahiran waktu itu sedang bloming-blomingnya revolusi biru. atau masa dimana para petambak tergila-gila sama udang windu. Persisnya tahun kelahiran saya 1986.

Senin, 02 November 2009

Aplikasi Fishfinder ”Hydro-Acoustic” dan GPS dalam Teknologi Pencarian Ikan

Global Positioning System (GPS) menyediakan informasi posisi dan waktu secara terus menerus di berbagai tempat di bumi. Karena GPS dapat diakses oleh sejumlah user yang tidak terbatas, maka GPS adalah sebuah sistem yang pasif. Oleh karena itu, user hanya dapat menerima sinyal satelit dengan bantuan GPS receiver.
Penggunaan teknologi GPS sangat membantu pekerjaan - pekerjaan survey pemetaan, topografi, hydrografi, geologi, land survey, dan juga bisa dimanfaatkan sebagai alat bantu navigasi pencarian ikan. Bahkan ada beberapa tipe GPS yang digunakan untuk hobby. Seperti kegiatan memancing, mendaki gunung, travelling, serta olah raga.


Gambar 1. Pemanfaatan Hydro-Acoustic dalam Mencari Ikan
Pada awalnya Acoustic System dikembangkan oleh Inggris pada masa pra-Perang Dunia II (PD II) dengan membuat ASDIC (Anti Sub-marine Detection Investigation Committee) yang terbukti sangat berguna bagi Angkatan Laut Negara-negara Sekutu pada PD II.
Setelah PD II berakhir, penggunaan akustik semakin berkembang luas untuk tujuan damai dan ilmiah, antara lain digunakan untuk; mempelajari proses perambatan suara pada medium air, penelitian sifat-sifat akustik dan benda-benda yang terdapat pada suatu perairan, komunikasi dan penentuan posisi di kolom perairan.
Selanjutnya perkembangan akustik semakin pesat pada awal dekade 70-an karena telah ditemukan Echo Integrator yang dapat menghasilkan nilai absolut untuk pendugaan dan estimasi bawah air.
Hydro-acoustic merupakan suatu teknologi pendeteksian bawah air dengan menggunakan perangkat akustik (acoustic instrument), antara lain; ECHOSOUNDER, FISHFINDER, SONAR dan ADCP (Acoustic Doppler Current Profiler). Teknologi ini menggunakan suara atau bunyi untuk melakukan pendeteksian.
Sebagaimana diketahui bahwa kecepatan suara di air adalah 1.500 m/detik, sedangkan kecepatan suara di udara hanya 340 m/detik, sehingga teknologi ini sangat efektif untuk deteksi di bawah air.
Beberapa langkah dasar pendeteksian bawah air adalah adanya transmitter yang menghasilkan listrik dengan frekwensi tertentu. Kemudian disalurkan ke transducer yang akan mengubah energi listrik menjadi suara, kemudian suara tersebut dalam berbentuk pulsa suara dipancarkan (biasanya dengan satuan ping).
Suara yang dipancarkan tersebut akan mengenai obyek (target), kemudian suara itu akan dipantulkan kembali oleh obyek (dalam bentuk echo) dan diterima kembali oleh alat transducer. Echo tersebut diubah kembali menjadi energi listrik; lalu diteruskan ke receiver dan oleh mekanisme yang cukup rumit hingga terjadi pemprosesan dengan menggunakan echo signal processor dan echo integrator.
Pemrosesan didukung oleh peralatan lainnya; komputer; GPS (Global Positioning System), Colour Printer, software program dan kompas. Hasil akhir berupa data siap diinterpretasikan untuk bermacam-macam kegunaan yang diinginkan.
Bila dibandingkan dengan metode lainnya dalam hal estimasi atau pendugaan, teknologi hydro-acoustic memiliki kelebihan, antara lain. Informasi pada areal yang dideteksi dapat diperoleh secara cepat (real time). Dan secara langsung di wilayah deteksi (in situ).
Kelebihan lain adalah tidak perlu bergantung pada data statistik. Serta tidak berbahaya atau merusak objek yang diteliti (friendly), karena pendeteksian dilakukan dari jarak jauh dengan menggunakan suara (underwater sound).
Menurut MacLennan and Simmonds (1992) hasil estimasi populasi adalah nilai absolut. Hydro-acoustic dapat digunakan dalam mengukur dan menganalisa hampir semua yang terdapat di kolom dan dasar air, aplikasi teknologi ini untuk berbagai keperluan antara lain adalah; eksplorasi bahan tambang, minyak dan energi dasar laut (seismic survey), deteksi lokasi bangkai kapal (shipwreck location), estimasi biota laut, mengukur laju proses sedimentasi (sedimentation velocity), mengukur arus dalam kolom perairan (internal wave), mengukur kecepatan arus (current speed), mengukur kekeruhan perairan (turbidity) dan kontur dasar laut (bottom contour).
Saat ini, hydro-acoustic memiliki peran yang sangat besar dalam sektor kelautan dan perikanan, salah satunya adalah dalam pendugaan sumberdaya ikan (fish stock assessment). Teknologi hydro-acoustic dengan perangkat echosounder dapat memberikan informasi yang detail mengenai kelimpahan ikan, kepadatan ikan sebaran ikan, posisi kedalaman renang, ukuran dan panjang ikan, orientasi dan kecepatan renang ikan serta variasi migrasi diurnal-noktural ikan. Saat ini instrumen akustik berkembang semakin signifikan, dengan dikembangkannya varian yang lebih maju, yaitu Multibeam dan Omnidirectional. Perangkat Echosounder memiliki berbagai macam tipe, yaitu single beam, dual beam (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0501/19/ipt02.html).
Metode hydro-acoustic merupakan suatu usaha untuk memperoleh informasi tentang obyek di bawah air dengan cara pemancaran gelombang suara dan mempelajari echo yang dipantulkan. Dalam pendeteksian ikan digunakan sistem hidroakustik yang memancarkan sinyal akustik secara vertikal, biasa disebut echo sounder atau fish finder (Burczynski, 1986).
Penggunaan metode hydro-acoustic mempunyai beberapa kelebihan (Arnaya, 1991), diantaranya :
1. berkecepatan tinggi ;
2. estimasi stok ikan secara langsung dan wilayah yang luas dan dapat memonitor pergerakan ikan ;
3. akurasi tinggi ;
4. tidak berbahaya dan merusak sumberdaya ikan dan lingkungan, karena frekwensi suara yang digunakan tidak membahayakan bagi si pemakai alat maupun obyek yang disurvei.
Penggunaan teknologi ini sangat membantu dalam pencarian sumberdaya ikan yang baru, sehingga akan mempercepat pengambilan keputusan atau kebijakan, terutama untuk menetapkan daerah penangkapan ikan agar potensi ikan dapat dipertahankan (Riani, 1998).
Keterpaduan semua metode di atas dapat dilakukan dengan adanya kerjasama diantara pihak-pihak terkait. Citra yang diperoleh melalui satelit penginderaan jauh, misalnya dianalisis di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) atau di instansi terkait lainnya. Data yang dihasilkan merupakan informasi dasar terhadap penentuan daerah potensi ikan. Data dan informasi juga dapat diperoleh melalui hasil survei akustik pada perairan yang sama selama beberapa waktu pengamatan, sehingga diharapkan dapat menghasilkan informasi yang lebih akurat tentang keberadaan ikan yang menjadi tujuan penangkapan. Informasi ini kemudian disampaikan kepada pihak pengguna, misalnya nelayan atau pengusaha penangkap ikan dalam melakukan operasi penangkapan sehingga kapal-kapal ikan dapat begerak ke daerah yang dimaksud, sehingga dengan demikian dapat menekan biaya operasional kapal-kapal tersebut (http://tumoutou.net/3_sem1_012/ke2_012.htm).

Gambar 2. Hasil Penangkapan Ikan dengan Bantuan Fishfinder dan GPS
Negara-negara yang maju pada sektor kelautan-perikanan (Norwegia, Jepang, Amerika Serikat, China dan Peru) bergantung pada teknologi akustik ini. Mereka menggunakan untuk melakukan eksplorasi sumberdaya dengan cepat, sehingga dapat mengeksploitasi dengan optimal, efisien dan ekonomis karena biaya eksplorasi yang murah dan waktu eksplorasi yang cukup singkat.
Selain itu eksploitasi yang dilakukan dapat lebih berwawasan lingkungan, berkesinambungan dan lestari, sebab sudah diketahui dengan jelas berapa potensi sumberdaya yang akan di eksploitasi tersebut, hanya perlu memilih kebijakan apa yang paling tepat untuk pengelolaan yang berkesinambungan dan lestari tersebut.
Hingga sekarang, teknologi hydro-acoustic ini belum banyak digunakan pada sektor kelautan-perikanan Indonesia, khususnya oleh perusahaan-perusahaan perikanan. Sebaiknya perusahaan-perusahaan tersebut mau memanfaatkan teknologi ini untuk kegiatan eksplorasi yang maksimal dan eksploitasi sumberdaya yang optimal (Donwill Panggabean, 2003).
Peralatan canggih berupa fish finder dan perlengkapan Global Positioning System (GPS) sebenarnya dapat diterapkan pada nelayan-nelayan yang ada di Indonesia karena hal tersebut dapat memudahkan nelayan mengetahui posisi ikan. Alat tersebut dimungkinkan dapat mengurangi beban nelayan akibat kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang saat ini sedang dirasakan. Bantuan alat fishfinder dan GPS yang diberikan ini bisa mengirit BBM. Mereka hanya akan berlayar ke tempat yang terdapat gerombolan ikan di laut sehingga dapat meningkatkan produk ikan laut yang ada. Fishfinder yang digunakan juga dapat memberikan informasi mengenai suhu, arus, kesuburan klorofil dan lainnya. Sedangkan GPS akan memudahkan nelayan mengetahui koordinat keberadaan kapal mereka saat berlayar. Jelas sekali bahwa peranan atau aplikasi fish finder dan GPS dalam pencarian informasi keberadaan ikan sangatlah penting dan bermanfaat bagi nelayan.

BIO SECURITY


Seperti yang telah saya janjikan pada tulisan sebelumnya kita akan ulas tentang Bio Security. Sebelum menjurus pada pengelolaan lingkungan tambak udang ada baiknya kita menegenal lebih dulu tentang apa itu Bio Securiti
Menurut Pebi Purwo Suseno, (saya gak tahu dia ahli apa) mungkin dia ahli biologi atau ahli peternakan (dia itu alumni dokter hewan IPB), saya dapat info topik ini dari blognya.
BIO SECURITY adalah tindakan perlindungan dari efek yang merugikan dari organisme seperti agen penyakit dan hama yang membahayakan bagi manusia, hewan, tanaman dan lingkungan.

Biosecurity dapat diterapkan di berbagai tingkatan dari yang paling kecil seperti bisecurity tingkat kandang sampai yang besar seperti biosecurity tingkat negara, untuk seterusnya berbagai tingkatan ini akan di wakili dengan istilah wilayah. Penerapan yang berbeda di berbagai tingkatan wilayah ini disesuaikan dengan tujuan dari tindakan biosecurity itu sendiri. Dalam tulisan ini tingkatan wilayah yang akan di bahas adalah tingkatan negara dan fokus ke arah hewan dan produknya, walaupun sebenarnya biosecurity ini bisa diterapkan dalam tingkatan wilayah yang lebih kecil dan juga bisa mencakup jenis komoditas lain.

Biosecurity haruslah diterapkan secara terus menerus dan dalam berbagai tahapan yang saling terkait untuk mencegah masuknya organisme yang dapat memberikan efek merugikan. Penerapan yang terus menerus dan dalam berbagai tahapan yang saling terkait ini dikenal sebagai rangkaian biosecurity atau Biosecurity Continuum.

Pelaksanaan biosecurity continuum, dapat di bagi menjadi tiga aktifitas yang berbeda dan saling terkait yaitu Biosecurity Pre-border (Biosecurity sebelum perbatasan), Biosecurity Border (biosecurity di perbatasan), dan Biosecurity Post-border (biosecurity setelah perbatasan).

Biosecurity Pre-border (Biosecurity sebelum perbatasan) adalah berbagai tindakan untuk mencegah masuknya organisme yang merugikan ke suatu wilayah tertentu. Biosecurity pada tahapan ini meliputi:

*

Kegiatan penelitian organisme yang tidak diinginkan dan penentuan organisme mana yang mungkin masuk dan terjadi di suatu wilayah, dampak yang terjadi serta sarana atau fasilitas apa yang tersedia untuk mengurangi kemungkinan masuknya organisme tersebut ke suatu wilayah.
*

Pengembangan dan pelaksanaan program pengendalian yang sesuai termasuk penetapan peraturan perundangan yang harus dipenuhi untuk menjamin pemasukan suatu “bahan berisiko” ke wilayah tersebut dalam kategori “aman”

Biosecurity Border (biosecurity di perbatasan) adalah berbagai tindakan untuk menahan dan mengontrol masuknya bahan berisiko dan memastikan bahwa bahan berisiko tersebut telah memenuhi persyaratan pemasukan sebelum kemudian didistribusikan dalam wilayah yang dituju.

Biosecurity Post-border (biosecurity setelah perbatasan) adalah berbagai tindakan untuk mendeteksi adanya organisme yang tidak diinginkan dalam suatu wilayah dan upaya pengendaliannya untuk mengurangi dampak yang merugikan. Biosecurity Post-border dilakukan melaluicleaning

*

Surveilans untuk memeriksa apakah organisme yang tidak diinginkan tersebut telah masuk (Deteksi penyakit), meskipun biosecurity pre-border dan biosecurity border telah dilaksanakan.
*

Reaksi/tindakan terhadap kejadian kasus untuk kemudian memberantas organisme yang tidak diinginkan tersebut apabila dimungkinkan.

Dalam pelaksanaannya, biosecurity pre-border sangat terkait dengan proses analisa risiko, dimana kita harus dapat mengidentifikasi bahaya, dan berbagai potensi masuknya, terjadinya, menyebarnya suatu organisme yang tidak dinginkan serta bagaimana dampak/konsekuensinya. Hal penting lain adalah penentuan tingkat perlindungan yang sesuai atau appropriate level of protection. Dalam tahapan ini, juga diperlukan adanya manajemen risiko dimana “semua risiko” dikelola dengan melakukan intervensi untuk menurunkan potensi bahaya sampai tingkatan yang dapat diterima sesuai dengan tingkat perlindungan yang telah ditetapkan.

Dalam pelaksanaannya, tahapan ini kemudian dibakukan dalam bentuk persyaratan pemasukan (health requirements) yang mempunyai kekuatan hukum sesuai dengan perundangan berlaku.

Di Indonesia, biosecurity pre-border untuk hewan adalah merupakan tanggung jawab dari Direktorat Kesehatan Hewan dengan berkoordinasi dengan instansi lain yang terkait seperti halnya Karantina Hewan.

Pelaksanaan biosecurity border pada dasarnya merupakan tindakan di perbatasan untuk memastikan pemenuhan persyaratan pemasukan sesuai dengan apa yang telah dipersyaratkan dalam persyaratan pemasukan dan lulus dari pemeriksaan secara “fisik”. Dalam kaitannya dengan hal ini, maka hal penting adalah adanya “sertifikat kesehatan” yang mendeklarasikan pernyataan sesuai dengan persyaratan pemasukan dan juga bukti fisik yang sesuai dengan deklarasi di sertifikat tersebut.

Dalam pelaksanaannya di Indonesia, biosecurity border untuk hewan merupakan tanggung jawab Karantina Hewan dengan berkoordinasi dengan instransi terkait lainnya seperti Direktorat Kesehatan Hewan. Apabilaada bahan berisiko yang masuk ke Indonesia dan tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan maka terdapat beberapa pilihan tindakan yang dapat dilakukan yaitu: perlakukan (treatment; jika memungkinkan), re-ekspor, atau pemusnahan.

Biosecurity post-border dilaksanakan dalam bentuk surveilans untuk deteksi dini kemungkinan masuknya organisme yang tidak diinginkan dan juga adanya reaksi/tindakan terhadap kejadian kasus (emergency preparedness) untuk menendalikan dan memberantasnya apabila memnugkinkan. Dalam pelaksanaannya, biosecurity post-border untuk hewan merupakan tanggung jawab Direktorat Kesehatan Hewan dengan Instansi teknis dibawah koordinasinya dan Dinas Peternakan serta dengan bekerjasama dan berkoordinasi dengan istitusi terkait lain seperti lembaga penelitian, universitas dan juga karantina hewan.

Sejauh mana pelaksanaan biosecurity continuum di Indonesia? Pada dasarnya semua komponen diatas telah ada dan telah dilaksanakan dalam tingkatan-tingkatan tertentu, yang masih kurang adalah koordinasi dan kerjasama yang baik dalam pelaksanaannya, mekanisme umpan balik atara sesama institusi dan kurangnya keterlibatan stakeholder lain seperti halnya Industri (peternak). Hal inilah yang perlu segera diperbaiki mengingat pentingnya pelaksanaan biosecurity continuum bagi perlindungan manusia, hewan, tumbuhan dan lingkungan termasuk indiustri (peternak) dari ancaman masuknya organisme yang tidak diinginkan dan dapat merugikan kita semua.

Bingung????Mending kita lansung ke tahap selanjutnya saja..Bio security pada tambah udang

Menurut Lighter (2003), biosecurity adalah tindakan untuk mengeluarkan pathogen tertentu dari kultivan yang dibudidayakan di kolam induk, pembenihan maupun kolam pembesaran dari suatu wilayah atau negara dengan tujuan untuk pencegahan penyakit.

Lalu apa manfaatnya bagi tambak udang?belum tahu juga? ni akang kasih tahu
Dengan menerapkan biosecurity, petambak bisa memperkecil resiko penyakit atau mendeteksi secara dini adanya
wabah penyakit, menekan kerugian yang lebih besar apabila terjadi kasus wabah penyakit, efisiensi waktu, pakan, dan tenaga, serta kualitas udang lebih terjamin.

Kalau sudah tahu manfaatnya, kita juga perlu tahu apa saja sih penyakit-penyakit yang biasanya ditemui sehingga kita perlu menerapkan biosecurity.
Kita akan kategorikan penyakit udang berdasarkan sebabnya.
■ Dipengaruhi oleh Lingkungan: Kondisi udang, dan agen penyakit
■ Virus: TSV (taura vsyndrom virus), WSSV , YHV, IHHNV (Infectious myo necrosis virus) ,IMNV
■ Bacteri: luminous bacterial, disease, bacterial necrosis, dan filamentous bacterial dissease
■ Protozoa: ciliate infection,gregarine infection, dan microsporidio

agar penyakit yang merugikan petambak itu menyerang udang, maka perlu dilakukan biosecurity.
tahap-tahapannya menurut jurnal yang saya dapat sebagai berikut:
- Barrier
- Isolasi (quarantine)
- water filtration
- Zero water exchange
- Water sterilization
- Equipment sterilization
- SPF Fry

juga perlu adanya pemilihan udang SPF (Spesifik Pathogen Free) atau SPR (spesifik pathogen resistant
. SPF maksudnya benih udang telah diyakini tidak membawa bibit penyakit. Sedangkan SPR bibit udang yang dilakukan rekayasa genetika sehingga dia kebal terhadap penyakit.