About Me

Foto saya
Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia
Asix adalah sebuah kata yang berasal dari dua suku kata A dan six (enam). kalau digabung akan membentuk nama belakang saya yaitu anam. Sedangkan poel sebutan nama depan saya yang berasal dari saiful. karena lidah orang maduralah nama yang berarti pedang itu menjadi poel. tanggal lahir saya sama dengan tangal lahir bungkarno, tapi masih harus ditambah 24 hari lagi. Kalau tahun kelahiran waktu itu sedang bloming-blomingnya revolusi biru. atau masa dimana para petambak tergila-gila sama udang windu. Persisnya tahun kelahiran saya 1986.

Kamis, 13 September 2018

Mengenal Tes IELTS



International English Language Testing System (IELTS) atau  Sistem Pengujian Bahasa Inggris Internasional (IELTS) secara luas diakui sebagai sarana yang dapat diandalkan untuk menilai apakah kandidat siap untuk belajar atau berlatih dalam bahasa Inggris. IELTS terbagi atas dua versi tes, yaitu versi Tes Akademik dan Pelatihan Umum. Jika tujuan anda mengambil ielts untuk melakukan pendidikan sarjana atau pasca sarjana di Luar negeri seperti Australia, Amerika atau Inggris maka sebaiknya anda memilih Versi Akademik saat anda melakukan pendaftaran tes IELTS ,namun sebaliknya jika tujuan anda untuk melamar pekerjaan atau hal lainnya seperti pendidikan tingkat SMA atau dibawahnya sebaiknya pilihlah versi umum.


Tes IELTS terbagi atas beberapa bagian yakni listening, reading, Writing, dan Speaking. Berikut penjelasannya :

Listening

 Sesi ini terdiri atas empat bagian, masing-masing terdiri atas 10 pertanyaan. Dua bagian pertama berkaitan dengan kebutuhan sosial. Ada percakapan antara dua pembicara dan monolog (percakapan sendiri/cerita). Dua bagian terakhir berkaitan dengan konteks pendidikan atau pelatihan. Ada percakapan dua orang lebih hingga empat orang ada juga monolog. Berbagai jenis pertanyaan digunakan, termasuk: pilihan ganda, pertanyaan jawaban singkat, penyelesaian kalimat, catatan / grafik / penyelesaian tabel, pemberian label diagram, klasifikasi, pencocokan. Peserta tes hanya mendengar rekaman sekali dan menjawab pertanyaan saat mereka mendengarkan.
Pertama-tama Peserta bisa langsung mengisi jawaban di kertas soal dan diberi kesempatan 10 menit untuk memindahkan jawaban dari kertas soal ke kertas jawaban.

Reading
 Ada tiga bacaan yang disajikan untuk dibaca peserta tes dengan tingkat kesulitan yang berbeda, pada sesi ini peserta harus menjawab 40 pertanyaan. Bacaan biasanya diambil dari majalah, jurnal, buku dan surat kabar. Setidaknya satu bacaan berisi argumen logis yang terperinci. Berbagai jenis pertanyaan digunakan, termasuk: pilihan ganda, pertanyaan jawaban singkat, penyelesaian kalimat, catatan / bagan / penyelesaian tabel, pemberian label diagram, klasifikasi, daftar / frasa yang cocok, memilih judul paragraf yang sesuai dari daftar, identifikasi penulis pandangan / sikap - ya, tidak, tidak ada jawaban, atau benar, salah, tidak ada jawaban.

Writing
 Ada dua tugas yang diberikan, dan peserta diberi waktu 20 menit pada Tugas pertama, diman peserta harus menulis setidaknya 150 kata atas soal yang ditanyakan, dan pada tugas ke dua peserta diberi waktu 40 menit untuk menuliskan jawaban sebanyak 250 kata. Penilaian pada Tugas 2 memberikan lebih banyak bobot daripada Tugas 1. Dalam Tugas 1, kandidat diminta untuk melihat diagram atau tabel dan untuk menyajikan informasi dengan kata-kata mereka sendiri. Mereka dinilai berdasarkan kemampuan mereka untuk mengatur, menyajikan dan mungkin membandingkan data, menggambarkan tahapan proses, menggambarkan suatu objek atau peristiwa, menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja.

Speaking

Sesi ini membutuhkan waktu antara 11 sampai 14 menit. Ini terdiri dari wawancara lisan antara peserta dan pemeriksa.
 Ada tiga bagian utama dalam sesi speaking:
 Bagian 1 peserta dan penguji memperkenalkan diri dan kemudian kandidat menjawab pertanyaan-pertanyaan umum tentang diri mereka, rumah / keluarga mereka, pekerjaan / studi mereka, minat mereka dan berbagai macam bidang topik umum yang serupa. Bagian ini berlangsung antara empat dan lima menit.
 Bagian 2 Kandidat diberikan kartu tugas dengan petunjuk dan diminta untuk berbicara tentang topik tertentu. Kandidat memiliki waktu satu menit untuk mempersiapkan dan mereka dapat membuat beberapa catatan jika mereka mau, sebelum berbicara antara satu dan dua menit. Pemeriksa kemudian menanyakan satu atau dua pertanyaan pembulatan.
 Bagian 3 Penguji dan kandidat terlibat dalam diskusi tentang isu-isu dan konsep yang lebih abstrak, yang secara tematik terkait dengan prompt topik di Bagian 2. Diskusi berlangsung antara empat dan lima menit.
 Sesi Speaking menilai apakah kandidat dapat berkomunikasi secara efektif dalam bahasa Inggris. Penilaian ini memperhitungkan Kefasihan dan Koherensi, Sumber Daya Leksikal, Ragam Gramatika dan Akurasi, dan Pelafalan.

Dan bagaimana penilaian TES IELST?

Penilaian atau score IELTS tidak seperti skor TOEFL yang mencapai ratusan tes IELTS tertinggi hanya angka 9 dan nilai terendah adalah 0. berikut penjelasannya dalm bahasa inggris

HOW IS IELTS SCORED? 
 IELTS results are reported on a nine-band scale. In addition to the score for overall language ability IELTS provides a score, in the form of a profile, for each of the four skills (Listening, Reading, Writing and Speaking). These scores are also reported on a nine-band scale. All scores are recorded on the Test Report Form along with details of the candidate’s nationality, first language and date of birth. Each Overall Band Score corresponds to a descriptive statement which gives a summary of the English language ability of a candidate classified at that level. The nine bands and their descriptive statements are as follows: 
 9 Expert User — Has fully operational command of the language: appropriate, accurate and fluent with complete understanding. 
 8   Very Good User - Has fully operational command of the language with only occasional unsystematic inaccuracies and inappropriacies. Misunderstandings may occur in unfamiliar situations. Handles complex detailed argumentation well. 
 7 Good User - Has operational command of the language, though occasional inaccuracies, inappropriacies and misunderstandings in some situations. Generally handles complex language well and understands detailed reasoning. 
 6 Competent User - Has generally effective command of the language despite some inaccuracies, inappropriacies and misunderstandings. Can use and understand fairly complex language, particularly in familiar situations. 
 5 Modest User — Has partial command of the language, coping with overall meaning in most situations, though is likely to make many mistakes. Should be able to handle basic communication in own field. 
 4 Limited User — Basic competence is limited to familiar situations. Has frequent problems in understanding and expression. Is not able to use complex language. 
 3 Extremely Limited User - Conveys and understands only general meaning in very familiar situations. Frequent breakdowns in communication occur. 
 2 Intermittent User - No real communication is possible except for the most basic information using isolated words or short formulae in familiar situations and to meet immediate needs. Has great difficulty understanding spoken and written English. 
 1 Non User - Essentially has no ability to use the language beyond possibly a few isolated words. 
 0 Did not attempt the test. — No assessable information. 
 Most universities and colleges in the United Kingdom, Australia, New Zealand and Canada accept an IELTS Overall Band Score of 6.0 or 6.5 for entry to academic programmes. IELTS scores are increasingly being recognised by universities in the USA

Rabu, 18 Desember 2013

KAF

KAF

“In.. Ina...Ina... bangun...bangun,” suara samar itu terdengar bersama suara getaran roda yang bersentuhan dengan ruas lantai. Getaran itu menambah sakit luka tusuk yang ku alami. Cahaya sekitar semakin meredup, dan suara teriakan sahabatku mulai sayup. Saat itulah kehidupan masa laluku dalam remang-remang menghampiriku.
Apa kalian pikir aku adalah seorang perempuan karena mereka memanggilku Ina?sayang sekali tebakan kalian salah. Aku adalah seorang lelaki. Perkenalkan, namaku adalah INA Alkahfie. Nama ini diberikan orang tuaku dengan harapan aku menjadi agen perubahan layaknya stereotip yang melekat dalam almamater mahasiswa. Yah INA adalah singkatan INDONESIA dalam kancah internasional, sedangkan AlKahfie adalah kejayaan atau kemenangan. Luar biasa bukan nama yang diberikan Ayahku. Bahkan saat Ayah mau memberikan nama ini, ibu sempat menentang dengan keras, Ibu tidak mau aku menanggung beban besar selama hidup karena namaku. Tapi Ayah percaya dan yakin, “Dalam amanah yang besar, tercipta kekuatan yang besar,” ujar Ayah meyakinkan ibuku.
Kejayaan Indonesia adalah Nama, Amanah, juga cita-cita yang dititahkan kepadaku. Bahkan nama ini sekaligus beban (benar kata ibuku). Saat usiaku masih bocah, nama ini menjadi bahan ejekan. Katanya aku adalah hermafrodit, bencong, banci, letoy dan banyak lagi ejekan yang mengisyaratkan aku adalah pemilik kelamin ganda. Untuk menguatkanku ayah berkata,” Kita tidak harus menjelaskan kepada semua orang satu demi satu makna Nama yang kau emban nak, jika sudah saatnya mereka akan tahu dengan sendirinya, yang perlu kau lakukan adalah meyakinkan dirimu bahwa Nama yang diberikan Kami bukan untuk memperburukmu, tapi itu adalah Doa yang akan terus terucap sepanjang hidupmu,Insya Allah.”
 Saat itu ku belum mengunyah betul penjelasan ayahku, hingga akhirnya kuputuskan untuk mengganti nama panggilanku. Tepatnya saat pengenalan Siswa baru di tingkat SMP. “ Perkenalkan, namaku KAF, aku berasal dari....,” ujarku saat diberi kesempatan memperkenalkan diri. Sejak itulah sebutan INA mulai pudar, kecuali dilingkungan rumahku dan sahabatku. Tapi ini tak membuat kecewa ayahku, bahkan senang, karena panggilan itu juga disukai Ibu, terutama karena berbau Arab. KAF adalah huruf ke 22 dalam abjad Arab.  Maklum, Ibuku adalah Perempuan yang dibesarkan dalam lingkungan yang sangat kental dengan pendidikan Agama Islam. Sedangkan ayah hanya laki-laki yang punya mimpi-mimpi besar. Dan mimpi itu sampai saat ini hanya sebatas mimpi.
Kurasa sudah cukup perkenalannya, dan akan kulanjutkan kenapa aku berada disini sekarang. Di tempat orang-orang berpakaian serba putih dan sahabatku menangis tersedu. Dan saat ku berada di sebuah ruangan, baju putih orang-orang sekitarku berubah jadi biru selanjutnya suasana jadi gelap dan sunyi.
Semua berawal ketika ku mulai membantu ayah mengumpulkan bukti-bukti drama dalam keuangan kantor yang di tempati ayahku. Ayahku adalah seorang staf program perencanaan. Kegiatannya adalah membuat Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKAKL) dan memastikan semua anggaran yang telah direncanakan keluar sesuai dengan fungsinya. Bagi seorang pegawai biasa seperti Ayah, pekerjaan ini adalah hal yang amat sangat berat. Apalagi setiap pekerjaan yang dikerjakan di bawah sumpah, Yaitu Sumpah Pegawai, belum lagi Ibu selalu mewanti-wanti agar bekerja sesuai dengan syariat agama. “ Benar katakan benar, salah katakan salah, dan Agama bukanlah Politik atau pengacara, dimana selalu mencari pembenaran disetiap kesalahan, “ pesan ibu setiap kali kami membincangkan negeri ini.
  Bahkan Ayah pernah sempat ingin mengundurkan diri menjadi Pegawai Negeri. Bukannya berniat menyombongkan diri, tapi, kembali pada niat ayah menjadi pegawai negeri. Tidak munafik, keinginan pertamanya adalah sebagai sumber penghasilan memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Dan niat kedua karena ingin memperbaiki negeri ini dari dalam. Mungkin keinginan itu terlalu muluk-muluk. Tapi setiap manusia bolehlah bermimpi. Walau mimpi itu sangat besar dan tinggi. Dengan mimpi yang besar, kita percaya bahwa Allah itu Maha Besar Juga Maha Tinggi.
Ketika ayah baru bekerja 2 tahun Ayah menyampaikan niatnya pada Ibu, “ Ma, saya ingin cari sumber penghasilan lain,” kata Ayah. Ibu langsung mengerti maksud perkataan itu, beliau memeluk ayah dari belakang sambil mendekatkan bibirnya ketelinga ayah kemudian berbisik, “Jika orang-orang seperti ayah yang ingin menjayakan negeri ini terus berguguran dan memutuskan keluar dari medan perang, maka sampai kapanpun negeri ini takkan pernah menang melawan keangkara murkaan.” Ayah tertunduk lemas, berpikir, bahkan meneteskan air mata. Ibu semakin mengeratkan pelukannya. Saat itu aku masih dalam kandungan, kejadian ini kudengar dari ibu.
Akhirnya setiap hari, setiap jam, menit, detik perasaan bersalah selalu menghantui ketika Ayah bekerja sebagai staf keuangan. Uang yang harusnya diperuntukan bagi kegiatan kantor malah digunakan untuk kepentingan pribadi, atau sekedar memuaskan pejabat yang lain. Katanya itu adalah dana warung kopi.
 Akhirnya ayah memutuskan untuk menjadi pejabat fungsional yang pekerjaannya tidak berhubungan dengan Keuangan. Jabatan ini terus melekat pada ayah hingga usiaku 13 tahun. Dan ibu tak ingin hidup ayah dihabiskan untuk bekerja. Sebenarnya jabatan fungsional adalah pekerjaan yang kita bisa mengatur ritme kerja, namun ayah terlalu gila akan mimpi-mimpi membesarkan negari ini.  Terkadang pekerjaanya melupakan kesehatan dan keamanan dirinya.
Dan kini Staf Programlah yang diemban Ayah. 13 tahun dengan golongan III d ayah lebih memilih menjadi staf Program. Karena ada misi dibalik itu semua. Misi menghancurkan para penggerogot negeri. Menjadi Pejabat fungsional membuat mental ayah semakin meningkat. Dan semakin memantapkan niatan perubahan.
Akhir-akhir ini Ayah sering mengajakku dan kedua sahabatku minus jus bersama di dekat sekolah kami. Bisa jadi seminggu 5 kali. Ayah sering bercerita bagaimana dulu negeri ini benar-benar besar,mulai dari kisah Gajah Mada hingga zaman Soekarnao.
Sampai pada hari ini ketika kita minum juss bersama, usai bercerita ayah berujar “Mereka semua tumbang karena membela negaranya, apakah kalian mau dan siap,” ujar ayah kepada 3 orang anak berseragam putih biru. Kami serempak mengatakan “ SIAAAAP....” Entah apa yang ada dipikiran kami, hanya kata itu muncul begitu saja.” Baiklah, Ina, Yusuf dan Sulaiman, saya ada misi untuk kalian” ucap ayah lirih.
Misi ini adalah mengantarkan Amplop ke Kantor Kejaksaan Negeri, Kantor Polisi dan 2 amplop ke kantor pos yang masing-masing beralamat pada inspektorat dan Komisi Pemeberantasan Korupsi. Keempat amplop tak tertulis siapa pengirimnya. Hanya alamat tujuan yang tertera didepannya. Masing-masing terbungkus rapi oleh plastik. “ Ingat langsung menuju kelokasi, jangan berhenti dimanapun,” ujarnya lagi meyakinkan. Kami bertiga yang mendapat titah hanya saling pandang kemudian menganggukkan kepala.
Saya kekantor kejaksaan, Yusuf ke Kantor pos dan Sulaiman kekantor polisi. Ternyata ayah membagi kami menjadi tim karena ayah telah merasakan kalau telah dibuntuti dalam 3 hari terakhir. Saya memutuskan untuk berangkat lebih dulu. Dan belum 50 meter saya meninggalkan ayah dan kedua sahabatku, sebuah mobil memepetku dan sebuah pisau menghujam perutku. Mobil itu langsung membawa pergi tas yang terdapat amplop titipan ayah didalamnya.  Sampailah saya diruangan ini sekarang.
Ayah tak ikut menemani, ternyata ayah langsung membawa amplop yang di bawa sahabat-sahabatku entah kemana. Sampai saat kumenatap wajah ibu, ku belum juga menatap wajah ayah. Bahkan sampai aku pergi dari Rumah sakit, Ayah belum juga terdengar kabarnya.
Sangat menyenangkan kembali ke Kamarku yang sudah 2 minggu kutinggalkan. Setelah lukaku sembuh dengan sempurna kuputuskan untuk kembali masuk sekolah dan saat kubuka laci belajarku, ada amplop coklat yang tak tahu milik siapa. disana ada kertas kecil yang kutahu itu tulisan tangan ayah karena tulisannya sangat berkarakter.  “ Lanjutkan” hanya itu yang tertulis.
Akupun mengerti maksudnya, kubawa amplop itu dalam tas yang baru ibu belikan untukku. Dengan hati bergetar takut kejadian yang sama menimpaku, ku kayuh sepeda langsung menuju Kantor kajaksaan Negeri. Tanpa ada hambatan apapun, Amplop itu telah diterima oleh penerima dan pencatat surat di Kantor seragam coklat gelap itu. Sepeda kembali ku kayuh menuju Sekolah.
Begitu pulang sekolah ternyata ayah sudah berada dikamarku, dia memelukku sangat erat dan menciumiku berkali-kali. “ Maafkan ayah, Ayah janji tak akan melibatkanmu lagi,” ucapan itu diucapnya dengan terbata-bata bersama air mata membasahi pipinya.
-Nam-